Home Cerita Alumni Alumni Talk Berita Tracer Study Login
Berita

Alumnus Manajemen Ini Patahkan Stigma Bisnis Tak Butuh Modal, Berikut Alasannya

N
ITB Nobel Indonesia Pusat Karir & Alumni
20 May 2026
1 Menit Baca

Alumni Nobel Indonesia Institute, Nasrullah, S.M., M.M. didapuk menjadi pembicara, pada Kamis (9/1). Alumnus Manajemen 2017 itu menjelaskan ihwal "Mengubah Ide menjadi Realita : Proses Mendirikan Usaha Sejak Awal".

Selaku narasumber ia menjelaskan bahwa memulai bisnis dalam bidang konveksi itu tak mesti mempunyai modal. "Siapa bilang bisnis konveksi itu butuh modal? saya memulai itu awalnya tidak modal, karena saya memberikan kepercayaan sama pelangganku. Kemudian apa butuh modal ? Saya malahan memanfaatkan relasi dan lingkungan, saya bisa patahkan stigma itu. Karena saya sudah lakukan," kata Ulla, di Ruang 401 Nobel Indonesia, Jl.Sultan Alauddin.

Bisnis konveksi sendiri ia jalankan dimedio 2016. Kala itu, ia masih menumpang sama rekannya dan belum memiliki karyawan. Setahun berikutnya, ia menimba ilmu di Nobel Indonesia Institute. "Di Nobel saya masuk tahun 2017, alhamdulillah ilmu saya bertambah dan saya aplikasi dibisnisku. Jadi teman-teman saya merekomendasikan yang masih kuliah segera memulai bisnisnya mumpung masih baru kuliah," terangnya.

"2019 alhamdulillah punyaka mesin jahit dan punya karyawan, ditahun 2020 waktu jaman Covid-19 itu malah jadi berkah, saya bisa buat APD sampai Masker, karena banyak pesanan dari luar, 2021 sampai 2022 alhamdulilah bertambah karyawan. Jadi berproses terus," sambungnya.

Berangkat dari pengalaman dan beragam kesalahnnya justru ia genggam sebagai pengalaman. Olehnya itu, Ulla mengingatkan kepada Mahasiswa Nobel agar terus belajar dan berproses menjalani bisnis. "Jadi memang tidak mudah membangun bisnis, harus tekun ulet dan buat mapping. Jadi kesalahan itu dinikmati saja." tandasnya,

Bagikan:
Tautan berhasil disalin!
Rekomendasi

Cerita Alumni Lainnya

Semua Kisah Sukses
Alumni Nobel Indonesia Bedah Sinergi Pemerintah & Wirausaha Muda Berita
Admin 20 May 2026

Alumni Nobel Indonesia Bedah Sinergi Pemerintah & Wirausaha Muda

NIDC – Kolaborasi antara pemerintah dan pengusaha muda menjadi kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini mengemuka dalam sesi Alumni Talk bertajuk "Strengthening Collaboration, Pemerintah dan Wirausaha Muda" yang digelar oleh Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia, Senin (13/4). Dalam sesi tersebut, Alumni ITB Nobel Indonesia, H. Andi Amil Amrillah, J. Sangaji., S.STP., S.H., M.A.P., M.M. menyoroti fenomena wirausaha yang umumnya didominasi usia 30-40 tahun. Namun, apresiasi tinggi diberikan kepada mahasiswa ITB Nobel yang sudah berani memulai bisnis, seperti usaha ricebowl, di sela-sela kesibukan akademik mereka. "Pemerintah hadir sebagai fasilitator dan kolaborator. Salah satu bentuk penguatan kolaborasi nyata adalah melalui pemberian bantuan dan kemudahan bagi pelaku UMKM muda," ujar Alumnus Fakultas Pascasarjana itu di Nobel Convention Center, Jl. Sultan Alauddin. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa pengembangan wirausaha di Takalar kini berhasil menduduki peringkat ketiga di Sulawesi Selatan berkat penerapan konsep kolaborasi yang melibatkan pemerintah, media massa, akademisi, industri bisnis, hingga komunitas. Meski begitu, tantangan besar masih ada pada pemahaman mahasiswa mengenai legalitas usaha. Menurutnya Mahasiswa Nobel Indonesia harus melek perizinan. Menjadi pengusaha bukan hanya soal jualan, tapi bagaimana bisnis tersebut bermanfaat bagi masyarakat dengan landasan legalitas yang jelas. "Saya melihat masih banyak mahasiswa yang kurang paham soal perizinan. Sebagai alumni Nobel, kalian harus hafal dan paham hal ini. Kalau mau bisnis kita benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, mulai dari hal mendasar: lengkapi KTP, NPWP, NIB, hingga izin BPOM atau PIRT. Legalitas adalah kunci agar usaha kita dipercaya dan bisa berkembang lebih jauh." lanjutnya. "Jadilah pengusaha yang tidak hanya pandai melihat peluang, tapi juga bijak dalam menjalin sinergi. Sebab di era sekarang, bukan lagi waktunya untuk berkompetisi sendirian, melainkan saatnya berkolaborasi untuk tumbuh bersama." tutupnya.

BACA SELENGKAPNYA
Alumnus Pascasarjana Nobel Ajak Ubah Hobi Jadi Cuan Berita
Admin 20 May 2026

Alumnus Pascasarjana Nobel Ajak Ubah Hobi Jadi Cuan

NIDC -- Owner Artana Land yang juga alumni Pascasarjana Nobel Indonesia Institute, Afsalurrahman, S.Pd., M.Bns, mendorong kepada seluruh Mahasiswa untuk mengubah hobinya menjadi pendapatan. Hal tersebut ia terangkan, saat didapuk sebagai narasumber dalam Entrepreneurship Basic Program di Kampus Nobel Indonesia Jl. Sultan Alauddin. Ia berujar, untuk menjawab semua persoalan itu tentu harus yang perlu dilakukan adalah mengubah mindset. "Semua berawal dari kemauan, jangan banyak alasan untuk tidak memulai. Apa alasan ta belum memulai bisnis, tidak ada modal, bakat, pengalaman? Semua berawal dari mindset atau kemauan yang kuat," katanya. Menurutnya, jika ada kemauan yang kuat tentu semua akan berjalan dengan lancar. Ia pun memberikan analogi dari sang penemu lampu, Thomas Alfa Edison. Ia mengungkapkan, Thomas waktu hingga ratusan kali untuk berhasil menemukan lampu. "Penemu lampu saja harus mengalami kegagalan selama 999 kali, dipercobaan ke 1000 baru berhasil," katanya. "Mindset semua berawal dari kemauan. Berawal dari suatu yang tidak terlihat, tapi kekuatan itu menentukan masa depan kita 80%," lanjutnya. Terakhir, ia mengungkapkan seorang pebisnis juga harus berani menerima kegagalan. Karena ia meyakini, dari proses kegagalan itu dapat melahirkan sebuah jawaban dan kemudahan. "Berani gagal hadpai rasa sulit, rasa sakit karena setelah kesulitan pasti kemudahan, dan setelah rasa sakit ada kesembuhan." tandasnya.

BACA SELENGKAPNYA
Kisah Alumni Pascasarjana Haryudin Rela Berkelana Demi Gelar Berita
Admin 20 May 2026

Kisah Alumni Pascasarjana Haryudin Rela Berkelana Demi Gelar

NIDC -- Semangatnya dalam melanjutkan pendidikan, berbuah hasil manis bagi Alumni Nobel Indonesia Institute, Haryudin, S.E., S.H., M.M. Ayah tiga anak itu, berhasil merengkuh gelar Magister Manajemen pada periode Agustus 2024. Manisnya lagi, pria yang berprofesi sebagai abdi negara tersebut diganjar penghargaan sebagai Alumni Pengusaha terbaik 'Nobel Entrereneurship Award' kategori Alumni Pengusaha Pascasarjana. Haryudin bercerita, akhir pekan yang biasanya diisi dengan menikmati waktu bersama keluarga, kerap ia korbankan demi menuntut ilmu. "Waktu kuliah itu hari sabtu dan minggu, Jarak tempuh rumah dan kampus kurang lebih 200 km (Sidrap - Makassar), berangkat subuh dan tiba di kampus tepat waktu," kenang Haryudin. Meski begitu, ia bersyukur dengan semua. Sebab, pihak kampus juga memberikan alternatif lain untuk kuliah dengan sistem daring. Sehingga, antusiasme menerima mata kuliah dari Dosen bisa ia lakukan dimana saja. "Paling berkesan kalau kuliah Daring/Online, bisa ikut kuliah saat bawa mobil, saat berada di rumah kebun, dan bisa di mana saja", terangnya. Menuju tahap tesis, ia harus bergulat dengan pekerjaannya di kantor. Tak ayal, pemilik bisnis Apotek Tiga Putra itu melanjutkan, rela imsomnia berkali-kali demi menuntaskan segala perbaikan yang diberikan oleh para penguji hingga pembimbingnya. "Kesibukan pekerjaan di kantor sambil kerjakan tesis suatu tantangan tersendiri, sampai kemudian begadang, kurang tidur, sudah selesai, kemudian ada perbaikan, di print lagi sampai menggunakan kertas kurang lebih 4 rim, namun tetap semangat," kata Haryudin. Tuah kerja kerasnya berbuah hasil. Bahkan lebih spesialnya, Wisuda yang ia jalani ditemani sang istri tercinta yang kebetulan sama-sama menuntus ilmu dikampus yang sama. Kini, dirinya kembali mengabdi sebagai pelayan masyarakat dan fokus menjalankan bisnis apotek di wilayah Sidrap. Bisnis yang ia bina mulai medio 2012 telah menjamur ke beberapa wilayah ruas kota. Seiring berjalannya waktu, revitalisasi juga menjadi atensi khusus, sehingga penambahan fasilitas dibarengi dengan apoteker yang berpengalaman menjadi nilai plus buat pelanggan. "Kepuasan pelanggan adalah prioritas utama," tandasnya.

BACA SELENGKAPNYA